Faiza Mardzoeki

Institut Ungu Selami Trauma Korban Peristiwa ’65 dengan Berteater

Faiza Mardzoeki. (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pengalaman kekerasan seksual para perempuan mantan tahanan politik peristiwa ’65 mengilhami proses kreatif Faiza Mardzoeki. Hal ini muncul setelah dia berjumpa dengan perempuan berusia 87 tahun bernama Umi Sardjono, mantan pemimpin tertinggi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sebelum meninggal.

Kisah perempuan itu dan perempuan mantan tahanan politik peristiwa ’65 lainnya yang dahsyat dan di luar batas kemanusiaan mendorongnya menulis naskah drama ‘Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer’.

Penulisan naskah drama berlatar peristiwa ’65 bukan perkara mudah. Karena Faiza Mardzoeki adalah generasi yang lahir pada tahun ’70-an. Dia adalah generasi yang mengalami langsung era ketakutan akibat propanda hitam rezim Orde Baru tentang perempuan mantan tahanan politik peristiwa ’65. Fakta di lapangan dengan materi kurikulum yang selama ini dijejalkan kepadanya merupakan sesuatu yang bertolak belakang. Kisah dan materi yang didapatkannya sangat banyak dan beragam.

Dalam wawancara dengan satuharapan.com di GoetheHaus Jakarta pada Kamis (27/2), Faiza Mardzoeki mengaku butuh waktu lama untuk melakukan serangkaian wawancara dan riset untuk karyanya itu. Diakuinya bahwa proses itu hampir dua tahun. Selain itu juga berdiskusi dengan ahli sejarah ’65, seperti Max Lane dan I Gusti Agung Ayu Ratih.

Faiza Mardzoeki menyebutkan para perempuan mantan tahanan politik peristiwa ’65 itu ketika diciduk berusia antara 14 sampai 30-an. “Jadi mereka sangat muda. Yang berusia 30 itu ibu-ibu. Tetapi yang  14, 15, 16, itu banyak.”

“Jadi ya ampun, muda-muda banget harus mengalami itu.” kata Faiza Mardzoeki dengan nada gundah.

Para perempuan itu rata-rata mengalami pemenjaraan dari 8 sampai 14 tahun. Para penyintas itu menghadapi hari tuanya dan bergulat dengan kenangannya yang pahit dan trauma akan kekerasan seksual. Tetapi harus pula mengalami stigma yang ditempelkan kekuasaan. Sudah mengalami kekerasan seksual  dan korban masih harus dikorban lagi dengan “diberitakan sebagai orang yang bejat moral lewat media.” Padahal para penyintas itu turut membangun pondasi berdirinya bangsa Indonesia dan kemajuan perempuannya.

‘Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer’ yang akan dipentaskan Institut Ungu pada Jum’at (7/3) hingga Minggu (9/3) di GoetheHaus Jakarta bertujuan menyuarakan para perempuan mantan tahanan politik peristiwa ’65. Hal ini juga sebagai wujud untuk menolak lupa akan peristiwa itu.

Produser, Penulis Naskah, sekaligus Sutradara ‘Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer’ Faiza Mardzoeki dalam pementasan ini akan didukung sejumlah pemain teater. Di antaranya Niniek L Karim, Pipien Putri, Irawita, Ani Surestu, Ruth Marini, dan Heliana Sinaga. Mereka akan menampilkan pergulatan para penyintas dengan persoalan traumatiknya.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Sumber